Barangkali pembahasan tentang ilmu adalah pembahasan yang mudah. Karena ilmu adalah sesuatu yang mulia dan kebaikannya diterima oleh semua kalangan sehingga tidak perlu membuat argumen panjang tentang keutamaannya. Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu betul bagaimana agama islam menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Akan diangkat oleh Allah, orang2 yang yang beriman dan berilmu, berderajat-derajat.
Tentu akan berbeda sujudnya orang berilmu dengan yang tidak, ilmu jelas menentukan kualitas. Apakah sama sholatnya orang yang tahu dengan yang tidak tahu?, jelas berbeda. Bahkan terlepas dari ilmu hukum dan tata caranya (fiqih), tetap tidak bisa disamakan kualitas sujud antara mereka yang tahu mengapa tuhan itu disembah-layak disembah-serta bagaimana sujud kepadaNya merupakan sebuah keniscayaan, dengan mereka yang bersujud menyembah tuhan hanya karena “biasanya ya seperti itu”. Hafalan bukanlah ilmu, ilmu adalah pengetahuan, yang dipahami dan kemudian mewariskan sikap. Tanpa ilmu, agama akan kehilangan ruhnya dan hanya akan menjadi rutinitas saja. Tanpa ilmu, agama hanya akan menyisakan bentuk, yang tersisa hanyalah dalil-dalil tanpa maksud.
Katakan, “Apakah sama orang yang berilmu dengan mereka yang tidak berilmu?”.
Diantara pesan yang dapat kita temukan di kitab ihya; “Orang yang paling utama adalah orang yang beriman dan berilmu, yang jika dibutuhkan ia memberikan manfaat, dan jika tidak dibutuhkan, ia mencukupkan ilmunya untuk dirinya sendiri”. Ilmu apapun, tentu tidak boleh diremehkan. Mulai dari yang sederhana sampai yang paling njlimet, semua akan memberikan manfaat di waktu yang tepat. Jika belum memberikan manfaat pada orang lain, maka ilmu itu akan memberikan manfaat kepada pemiliknya sendiri. Ilmu adalah teman dikala sepi, dia tidak akan berpaling dan mengkhianati, dan akan tetap menghiasi diri kita disaat manusia menjauh.
Ilmu adalah pondasi dalam beramal, tidak ada amal tanpa didasari ilmu, namun sebaliknya ilmu akan tetap ada meskipun belum diamalkan. Tentu ilmu yang sempurna adalah ilmu yang disertai dengan amal, dan berkaitan dengan ini guru saya pernah berpesan (dengan mengutip kitab Maraqi Ubudiyahnya Syeikh Nawawi) bahwa “apabila kamu mengamalkan apa yang kamu tahu, maka Allah akan memberikan apa yang kamu belum tahu”. Ada sebagian ilmu Allah yang diajarkan kepada kita bukan melalui jalur belajar namun melalui jalur amal, dengan beramal-yang didasari ilmu-maka akan ada pengetahuan baru yang kita tidak ketahui sebelumnya. Hal ini tentu sering kita alami ketika kita menekuni suatu bidang pekerjaan, maka bukan hanya semakin mahir dengan bidang tersebut namun pengetahuan kita juga akan ikut bertambah dari sebelum melakukan/menekuni bidang tersebut. Begitu halnya dengan ibadah, apabila ibadah dilaksanakan atas dasar ilmu kemudian diamalkan secara istiqomah, maka ilmu-ilmu itu akan bertambah. Hal tersebut juga yang sebagian orang artikan sebagai maksud dari ilmu laduni; ilmu yang datang langsung dari Allah tanpa perantara.
Dalam hadits dengan riwayat yang dhaif juga ada redaksi yang cukup indah terkait perumpamaan ilmu; “keimanan itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah malu, dan buahnya adalah ilmu”. Keimanan itu telanjang, menjadi hal yang paling mendasar (tentu keimanan yang dimaksud adalah keimanan yang ada dalam hati/ sudah berlandaskan ilmu sehingga menjadi keyakinan). Dengan keimanan lah manusia baru bisa dianggap ada atau hidup. Maka hal mendasar tersebut sepantasnya disempurnakan dengan pakaian takwa, dengan melaksanakan konsekuensi dari keimanan tersebut. Seseorang yang hidup lazimnya berpakaian, seperti orang yang beriman maka merupakan keniscayaan baginya untuk bertaqwa sebagai refeleksi dari keberadaan iman tersebut. Seseorang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah maka sudah selayaknya untuk menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya sebagai tanggung jawab atas nikmat kesaksian tersebut. Kemudian perhiasannya adalah malu, tentu rasa malu; malu berbuat dosa, malu berlebihan dalam berbuat, malu melakukan hal yang sia-sia, malu mengusahakan sesuatu yang-meskipun tidak haram-namun bukan karena Allah, (bukan level takut lagi, namun sudah masuk ke merasa malu berbuat hal yang tidak ada niat mengejar ridho Allah di sana) merupakan perhiasan yang memperindah keimanan tersebut. Rasa malu tentu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, punya rasa malu untuk berbuat dosa adalah bukti kedewasaan iman. Seorang dewasa yang malu berebut permen dengan anak kecil, tidak membuat-buat rasa malunya, itu adalah rasa malu yang jujur karena dia sadar posisinya, sebagai seorang hamba, makhluk yang sewajarnya adalah bersujud kepada yang menciptakan, yang menghidupkan, bahkan lebih jauh lagi bersujud kepada dzat yang memberinya sujud itu sendiri. Dia akan malu jika melakukan hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang hamba yang mengaku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan yang terakhir dikatakan bahwa ilmu adalah buah, seperti yang sudah kami jelaskan secara singkat pada paragraf sebelumnya, bahwa termasuk buah dari amal yang disertai ilmu, adalah ilmu.
Ilmu yang paling mulia tentu ilmu tentang dzat yang paling dan maha mulia pula. Dan ini tentu mempertegas keutamaan ilmu, karena hanya dengan ilmu seseorang bisa dekat dan sampai kepada Allah. Kemudian apa lagi hal paling membahagiakan bagi seorang makhluk selain berada di sisi tuhannya, bukankah untuk itu kita diciptakan. Karena ilmu Allah disembah, karena ilmu Allah ditakuti, untuk ilmu juga diutus seorang rosul ditengah-tengah manusia. Maka dapat kita pahami bahwa ilmu yang paling awal harus dipelajari adalah aqidah, kemudian dilanjutkan dengan ilmu terkait kewajiban-kewajiban seorang mukmin, dan selanjutnya dihiasi dengan ilmu-ilmu hati.
Hal pertama yang harus kau tunaikan adalah mencari ilmu, sebab ilmu merupakan pusat dan poros ibadah. Ketahuilah, ilmu dan ibadah merupakan dua permata yang karenanya terlahir segala yang terlihat dan terdengar1.
1Minhajul Abidin, terjemah bebas oleh Aguk Irawan dan Tim Baitul Hikmah, penerbit Qalam
